Selamat Ibadah Puasa
Sulselbar

Sekolah Alam, Sekolah Alternatif Pendidikan Karakter

manfaat-sekolah-alam

PENGAJARAN kini tidak harus dilakukan di ruang kelas atau di gedung mewah. Pembelajaran yang menyenangkan justru biasanya lebih baik dilakukan di luar kelas seperti di alam terbuka.

Begitulah aktivitas puluhan anak didik di Sekolah Alam Insan Kamil, Kabupaten Gowa. Seperti namanya sekolah alam, nuansa alamnya memang sangat terasa. Sejumlah pohon dan tanaman dijadikan sebagai alat pembelajaran. Ada pohon mangga, pohon rambutan, pohon pepaya, dan lainnya. Beberapa tanaman sayur seperti bayam, kangkung, kelor serta kacang-kacangan juga ada.
Tidak seperti sekolah pada umumnya yang menggunakan gedung sebagai ruang kelas. Tempat belajar di Sekolah Alam Insan Kamil lebih banyak berupa ruangan yang terbuat dari kayu. Tetapi ada juga yang terbuat dari bata. Selain ruang belajar, fasilitas sekolah lainnya adalah kantin, masjid, dan toilet. Sekolah ini dibawah kendali Yayasan Qalbu.

Halaman sekolah juga ada. Fungsinya banyak. Tidak sekadar menjadi tempat upacara atau senam serta kegiatan olahraga lain. Halaman sekolah di tempat ini juga disulap menjadi area bercocok tanam. Tidak jauh dari halaman sekolah, ada outbond area berupa titian kayu yang terbentang di antara dua pohon besar. Ada juga saluran irigasi untuk anak-anak yang ingin berarung jeram. Betapa serunya aktivitas anak-anak di alam terbuka seperti ini.

Ketua Yayasan Qalbu, Hartono mengatakan konsep sekolah alam memang sengaja dikemas untuk menjadi pembeda dengan model pembelajaran di sekolah-sekolah umum. Sekolah alam membuat anak-anak didik lebih dekat dengan alam dan menikmati masa-masa kanak-kanaknya.

“Pembelajarannya lebih banyak di alam terbuka. Mulai dari bercocok tanam, menjual hasil tanaman, dan aktivitas lain yang berorientasi membangun kemandirian anak,” kata Hartono.

Pria yang akrab disapa Tono ini menambahkan anak-anak usia Taman Kanak-kanak tidak boleh dipaksa untuk belajar. Mereka harus menikmati masa kecilnya dengan bermain sambil belajar. Karena itu, belajar di alam terbuka dengan konsep bermain menjadi alternatif untuk pengembangan diri dan pengenalan hidup yang sesungguhnya.

Ada lima konsep pendidikan integritas yang dikembangkan sekolah ini. Pertama, pengembangan akhlak melalui keteladanan para guru. Kedua, pengembangan kreativitas anak didik melalui kegiatan learning by games. Hampir semua pembelajaran diselingi dengan permainan-permainan kecil yang membuat anak didik tidak bosan. Ketiga, pengembangan logika dan daya cipta melalui experimental learning. Lalu yang keempat pengembangan kepemimpinan melalui metode outbond training. Secara periodik manajemen Sekolah Insan Kamil memang mengagendakan outbond bagi murid-muridnya. Lokasi outbond juga tidak jauh dari sekolahnya. Bahkan masih dalam lingkungan sekolah. Selanjutnya yang kelima, pengembangan karakter mandiri melalui entrepreneurship games. Menurut Hartono, entrepreneurship games dilakukan dalam bentuk business day yakni anak-anak menjual hasil pertaniannya.

“Belajar menjawab persoalan hidup sejak dini. Mereka diajarkan kemandirian dan ketangguhan sejak dini. Salah satunya dengan mengadakan business day. Anak-anak didorong untuk menjual sendiri hasil buminya. Lalu hasil penjualannya disimpan dalam tabungan mereka masing-masing,” kata Tono.
Pengajaran keislaman juga diperhatikan dengan baik. Anak-anak diajak menghafal satu ayat alquran dalam sehari. Demikian pula pendidikan akhlaknya. Gurunya juga diwajibkan rajin membaca dan mempresentasekan apa yang telah mereka baca kepada anak didiknya.

Sekolah yang beralamat di Jalan Dato Pagentungan, Tamarunang, Kabupaten Gowa ini berdiri sejak tahun 2014. Untuk sementara sekolah alam ini fokus pada pendidikan anak usia dini (PAUD). Meski berstatus sekolah alam, proses pembelajaran di Insan Kamil Gowa tetap menerapkan kurikulum nasional yang ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Salah seorang pemerhati pendidikan, Bunda Nana mengapresiasi kehadiran sekolah ini. Dalam sebuah acara parenting di Sekolah Alam Insan Kamil, Nana menceritakan komparasi sekolah di Eropa dengan Indonesia. Menurut dia, di Eropa, justru sekolah mahal itu sekolah alam, sekolah tanpa AC. Sekolah AC justru sekolah masyarakat biasa. (Fachruddin Palapa)

Comments
Social Media Berita Kota
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota.

To Top