Sulselbar

Ne’ Tato Dena: Pelanggaran Adat Picu Kerusakan Alam Toraja

Ne' Tato Dena

 

RANTEPAO, BKM– Kerusakan alam dan tanaman kerap terjadi di Toraja itu disebabkan karena ulah masyarakat sudah tidak peduli dengan pelanggaran adat (Pemali). Kondisi tersebut sudah parah, bahkan tidak ada lagi yang peduli sehingga jangan heran jika longsor setiap musim hujan dimana-mana.

Demikian pula tanaman masyarakat atau petani seperti padi dan komoditi mapun komoditas lainnya sering gagal panen. Hal itu diungkapkan tokoh adat Ne’ Tato Dena kepada “BKM” Selasa (4/7).

Sesuai keyakinan masyarakat adat Toraja, kata Ne’ Tato’, hanya ada dua penyebab kerusakan alam dan tanaman milik petani.

Selain karena kesialan akibat kesalahan diperbuat manusia (Tipalumbang Tu Pa’naungan), juga dirusak oleh pemilik alam (na’ purai to’ampu padang) semisal tikus, ulat, dan lainnya. Misalnya seks bebas, yang dilakukan di sembarangan tempat, baik oleh anak-anak muda maupun orang tua.

Demikian pula hubungan seksual yang terjadi antara warga dari kasta tinggi dengan kasta rendahan, begitu pula sebaliknya. Atau boleh jadi masyarakat melanggar adat buka makam (patane/liang) pada musim tanam padi.

Untuk mengeliminir kejadian serupa berlarut-larut solusinya melakukan musyawarah (kombongan adat) difasiltasi pemangku adat bersama pemerintah, kemudian dilanjutkan dengan upacara melepaskan malapetaka dengan cara dibiangi atau disigiran biang, bisa juga dibilangan darang usuk atau dipurrusan daun-daun, imbuh Ne’ Tato. (agus)

loading...
Comments
Social Media Berita Kota
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota.

To Top