Opini

Pelajaran Pekerti dari Tangan Nenek

 

Sejatinya mendidik anak memang merupakan tugas orang tua. Akan tetapi karena kesibukan karena waktu luang yang terbatas, sebagian orang tua menggunakan pihak lain dalam mengasuh dan mendidik buah hatinya. Ada dua alternatif yang kerap menjadi pilihan orang tua dalam hal pengasuhan anak yakni menggunakan jasa baby sitter (pramusiwi atau pengasuh bayi/anak) atau menitipnya pada sang nenek di kampung.

Fachruddin Palapa
Jurnalis Berita Kota Makassar

Di tengah kehidupan modernisasi saat ini menggunakan jasa pramusiwi menjadi pilihan banyak orang tua dalam menjaga dan mengasuh anaknya. Ini banyak dilakukan oleh pasangan suami-istri yang memiliki kesibukan dan banyak menghabiskan waktunya di luar rumah.

Menggunakan jasa pramusiwi memang lebih praktis. Mencarinya juga tidak terlalu susah. Apalagi saat ini sudah banyak perusahaan penyedia jasa pembantu rumah tangga, termasuk pramusiwi. Selain itu, iklan jasa layanan pembantu rumah tangga dan pramusiwi juga sudah ada di media massa baik surat kabar, radio, maupun televisi.

Memang banyak keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan jasa pramusiwi. Di antaranya menjaga bayi atau anak sepanjang waktu di rumah dan mengajarkan pelbagai keterampilan kepada anak atau sang bayi. Pengasuh anak akan menggantikan peran ibu dalam banyak kegiatan. Mulai dari memandikan, memberi makan, mengajak bermain hingga menidurkannya.

Di samping kelebihan, menggunakan jasa pramusiwi dalam hal pengasuhan anak juga memiliki kelemahan dan kekurangan. Di antaranya ada jarak yang tercipta antara ibu dan anak. Karena lebih banyak berada di luar rumah, komunikasi antara ibu dan anak tentu akan menjadi renggang. Apalagi jika sang ibu juga malas menelepon anaknya, interaksinya pun semakin berkurang. Sebaliknya justru yang dekat dengan sang anak adalah pembantu atau pramusiwi. Itu karena baby sitter selalu berada di samping anak atau bayi. Seluruh keperluan dan kebutuhan anak ditangani sang pramusiwi.

          Bagaimana dengan penitipan anak pada sang nenek. Tradisi seperti ini juga masih hidup sampai sekarang. Bahkan di kalangan masyarakat Bugis Makassar, tradisi menitipkan anak pada sang nenek masih terus lestari. Namun, konsep penitipan anak pada nenek berbeda dengan model penitipan anak di lembaga-lembaga sosial yang ada. Tenggat waktu di lembaga penitipan anak terbatas dari pukul 07.00 pagi hingga pukul 18.00.  Tetapi, penitipan anak pada nenek itu berlangsung lama. Bertahun-tahun. Bahkan kadang-kadang harus menyelesaikan satu jenjang pendidikan tertentu.

Seorang sahabat suami-istri yang berkiprah di Makassar memilih menitipkan anaknya untuk diasuh sama neneknya di kampung. Waktunya cukup lama; tiga tahun. Setelah menyelesaikan pendidikannya di taman kanak-kanak, anak sahabat itu langsung dikirim ke kampong untuk melanjutkan pendidikan di sekolah dasar. Pasangan suami-istri ini memang sibuk dan memiliki karier berbeda. Dibanding menyewa pramusiwi atau menitipkan pada lembaga penitipan anak, suami-istri ini lebih memilih mengirim anaknya ke kampung. Apatah lagi sang kakek-nenek di kampung juga kesepian karena semua anaknya sudah berkeluarga dan telah memiliki rumah masing-masing.

Mengapa memilih menitip anak pada nenek atau kakek? Jawaban sahabat saya itu sederhana. Jika diasuh dan dididik oleh nenek, dijamin hasilnya lebih maksimal dibanding menitipkannya pada lembaga-lembaga sosial yang ada. Selain itu, juga terjalin kedekatan emosional antara nenek atau kakek dengan sang cucu. Secara tidak langsung karakter-karakter positif sang kakek atau nenek juga akan terpatri pada diri sang cucu. Itu karena interaksi nenek dan cucunya selalu terjalin setiap saat. Dengan menitip anak sama kakek atau nenek, kesempatan untuk berkumpul bersama orang tua juga lebih besar karena bisa berkunjung ke kampung minimal sekali dalam sebulan.

Sementara menggunakan jasa pramusiwi repot dan mengekang anak. Repot karena harus menelepon sang pramusiwi setiap saat untuk menanyakan kondisi anak. Pengasuhan anak oleh pramusiwi juga membatasi kebebasan anak. Anak hanya bergaul dan berinteraksi dengan sang pengasuh. Tetapi jika dititipkan pada kakek atau neneknya di kampung, teman bergaulnya banyak. Selain kakek dan nenek juga anak-anak tetangga dan kerabat lainnya.

Ustaz Maulana saat memberi tauziyah pada halalbihalal Fajar Group awal Juli lalu juga menyinggung tradisi menitipkan anak pada sang kakek atau nenek yang masih hidup di Sulawesi Selatan. Menurut dia, tradisi ini harus dipelihara dan dipertahankan. Menitipkan anak untuk diasuh dan dididik oleh kakek atau neneknya merupakan model pendidikan keluarga yang spesifik dan berkualitas.

Disebut spesifik karena tradisi seperti ini tidak dilakukan oleh banyak orang. Mungkin hanya di kalangan masyarakat Bugis-Makassar. Di daerah lain belum tentu ada. Kualitas pengasuhan anak oleh nenek juga lebih terjamin. Ustaz yang mengisi acara religi di salah satu stasiun televisi itu mengatakan anak yang diasuh atau dididik oleh kakek atau neneknya akan menghasilkan kualitas yang minimal sama dengan bapak atau ibunya. Sebab, sang kakek atau nenek akan memberikan pola pendidikan yang sama pada ayah atau ibu sang cucu. Bahkan kasih sayang kakek atau nenek pada cucunya jauh melebihi kasih sayang nenek atau kakek pada anak-anaknya. Usapan dan belaian nenek atau kakek juga merupakan pemahaman pendidikan karakter sejak dini kepada anak. Tradisi ini akan menanamkan rasa iba dan kasih sayang kepada sang anak kelak ketika yang bersangkutan sudah dewasa.

Tradisi menitip anak pada kakek atau nenek di kalangan masyarakat Bugis-Makassar biasanya dilakukan saat anak masih balita hingga usia sepuluh tahun. Dalam ilmu psikologi, anak usia balita itu masuk dalam kategori golden age atau usia keemasan. Masa-masa pembentukan karakternya sangat ditentukan pada rentang usia ini. Pola pengasuhan tentu sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak.

Tanpa memandang remeh jasa pramusiwi, tentulah pengasuhan anak oleh kakek atau nenek jauh lebih baik. Dalam banyak hal. Mulai jaminan rasa aman, pemberian kasih sayang, sampai pada model dan pola pengasuhan. Orang tua yang memilih menitipkan anaknya pada sang kakek atau nenek di kampung tentu tidak pernah cemas dan diliputi rasa khawatir. Tetapi orang tua yang menggunakan jasa pramusiwi atau menitipkan anaknya pada lembaga penitipan yang ada, kadang-kadang masih was-was dan khawatir jangan-jangan terjadi sesuatu pada sang anak.

Oleh karena itu, untuk suami-istri yang sibuk dan tidak memiliki waktu luang dalam mengurus anak, tidak ada salahnya menitipkannya pada kakek atau neneknya di kampung. Sekolahnya juga di kampung. Pergaulan anak-anak di kampung jauh lebih sopan dan santun dibanding pola pergaulan di kota. Anak-anak yang dididik sejak kecil di kampung mudah bergaul dan memiliki banyak teman. Sebab di kampung tidak ada sekat antara rumah yang satu dengan rumah lainnya. Satu orang dikenal satu kampung. Di kota, tentu tidak begitu. Tetangga satu tembok saja jarang ketemu. Bagaimana pula tetangga di blok sebelah atau di kompleks perumahan lain. (*)

 

loading...
Comments
Social Media Berita Kota
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota.

To Top