Berita

Ibu-ibu: Jangan Naikkan Tarif Listrik, Itu Berat!

JAKARTA, BKM — Obrolan Minggu dalam Topik Perempuan dan Energi dihadiri oleh Mutia Sari Syamsul, MBA sebagai Founder HCAUS (Human Capital for Us ) Community, Founder & Committee IPSCLC (Indonesian Procurement Supply Chain & Logistic Community, Founder & CEO PT Unies Cita Marlindo & PT Magna Cita Marlin, Hj.Rusilowati Efendi S.E, M.Pd sebagai Ketua Himpaudi (Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan), Hj. Nunung Nur Kurniawati S. Pd sebagai Yayasan Al Mukhlisin, Ketua MR Al Hidayah Bintara Jaya serta Sri Mulyani SPd sebagai penggerak PKK di Bintara Jaya/Bekasi Barat.

Diskusi ini diselenggarakan karena perempuan atau ibu sebagai penopang dalam kehidupan berumah tangga harus selalu melek informasi agar dapat mengantisipasi jalannya ekonomi dan kehidupan rumah tangga ke depan.

Saat ini tema diskusi yang menjadi perhatian adalah meminta harga listrik supaya terus dalam kondisi yang stabil.

Mengapa ini perlu kami tekankan? Sebab biaya atau tarif listrik, sudah menjadi kebutuhan pokok yang primer, sama pentingnya dengan kebutuhan pulsa telepon dan bahan pangan. Mutia menyampaikan.

“Kalau tarif listrik nanti naik, pasti kebutuhan yang lain akan ikut naik. Contohnya, kebutuhan transportasi untuk naik angkot, ongkos ojek, dan naik bus umum dan kereta api, biasanya ikut terkerek naik. Begitu juga kebutuhan utama lainnya seperti membeli pakaian seragam, alat tulis, buku-buku sekolah, dan buku pelajaran, pasti mengikuti kenaikan harga listrik, yang menjadi energi dalam hidup kita,” kata Hj Nunung Nur Kurniawati.

Para suami, lanjut Hj Nunung, nantinya pasti bingung, karena harus kerja lebih keras, agar pendapatannya bisa mengikuti kenaikan harga listrik dan tarif-tarif lain yang mengikutinya.

Buntut-buntutnya, setiap hari di rumah, kerja kami hanya ribut melulu, karena jumlah uang yang ada, tidak bisa mengimbangi kebutuhan hidup yang terus melangit.

Kami inginnya, kondisi ekonomi tetap stabil, tarif listrik juga seperti sekarang ini. Syukur-syukur kalau pemerintahnya lebih memperhatikan kami, dengan menurunkan tarif listrik untuk rumah tangga.

Jika ini yang terjadi, situasi rumah tangga akan lebih aman, karena saat ini beban hidup kami sudah berat. Kondisi zaman saat ini sudah berbeda dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Sebagai bagian dari pendidik, Hj. Rusilowati Efendi menyatakan keinginannya agar jangan lagi kami para ibu yang harus mendidik anak-anak kami yaitu para ibu di rumah, ditambah lagi bebannya, kalau ada tarif yang dinaikkan pemerintah.

Para ibu juga mencermati banyaknya berita pejabat yang terpaksa melakukan korupsi, karena kebutuhannnya lebih tinggi dari kemampuannya.

Itu sebabnya dirasa ada kebutuhan agar para ibu juga diarahkan menjadi lebih produktif agar lebih mampu menghasilkan produk rumahan yang kalau berhasil, bisa dijual dan membantu ekonomi rumah tangga.

“Hal tersebut merupakan solusi daripada hanya melakukan bagaimana meminta terus suami, supaya punya penghasilan lebih besar, sebagai dampak naiknya tarif listrik,” kata Sri Mulyani S. Pd.

Pemerintah mintanya semua hal menjadi lebih efisien, lebih mudah, dan lebih murah. Tujuannya supaya investasi bisa masuk Indonesia, kita bisa membangun negeri, pembangunan lebih merata, dan semua penduduk negeri ini, dapat menikmati manfaat yang sama dari pembangunan.

Apa sih yang perlu dibangun? Infrastruktur seperti jalan raya penghubung, supaya nanti energi dan bahan bakar yang lewat sana, harganya lebih murah alias lebih terjangkau.

Kalau distribusi dan transportasinya lebih lancar, seperti kereta pengangkut batubara dan angkutan pendukungnya lebih murah, listrik yang pembangkitnya pakai tenaga batubara, bisa jadi lebih murah juga harganya.

Tapi ternyata masalahnya bukan di sini tapi bagaimana pemerintah sebaiknya mendukung rakyat dengan menetapkan harga khusus bagi konsumsi batu bara dalam negri yang merupakan bahan dasar produksi listrik agar harga listrik tidak berimbas naik.

Sekadar diketahui, tahun 2017 pemerintah berjanji tidak menaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL) tiga bulan pertama tahun 2018.

Saat ini sudah bulan Februari 2018, bulan depan Maret. Bagaimana situasi bulan April 2018 dan seterusnya? Pertumbuhan ekonomi (data BPS) tahun 2017 capai 5,07%, di bawah target 5,1 sd. 5,2%.

Dengan kondisi tahun politik tahun 2018, diharapkan pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 5,4%. Konsumsi rumah tangga hanya 4,95% tahun 2017, diharap bisa mencapai 5% tahun ini

Dengan melemahnya daya beli masyarakat di mana 1 dollar AS capai hampir Rp 13.600,- hari Selasa (6/2), serta lesunya daya beli, menyebabkan secara nasional harga sejumlah kebutuhan pokok relatif turun, tetapi memang daya beli nasional juga mengalami kelesuan.

Di lain sisi, pemerintah sedang menyusun formula baru untuk tentukan Tarif Dasar Listrik (TDL). Selama ini komponen untuk susun TDL adalah inflasi, harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price – ICP), dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Dari total kapasitas pembangkit listrik PLTU dari batubara adalah 24.883 MW atau 48% dari total kapasitas pembangkit di dalam negeri 52.231 MW.

Sedangkan harga batubara naik terus dari tahun 2015 yang mencapai US$60,13 per metrik ton, tahun 2016 naik menjadi US$61,84 per metrik ton.

Di tahun 2017 harganya sudah sampai pada US$85,92 per metrik ton, dan di tahun ini sudah mencapai di level US$ 95.54 per metrik ton.

Saat ini beban PLN semakin berat akibat TDL tidak naik, sedangkan harga batubara dunia makin  tinggi. Agar beban PLN tidak bertambah, maka pemerintah perlu menetapkan HBA dalam skema DMO (Domestic Market Obligation) yaitu kewajiban memasok batubara ke dalam negeri.

Nantinya skema DMO yang sekarang sudah ada, akan disempurnakan pada penghitungan HBA yang dijual untuk PLN bagi energi pembangkit listrik, ditetapkan pemerintah.

Sedangkan untuk batubara yang dijual di luar PLN dan untuk ekspor, harganya ditetapkan berdasar mekanisme pasar. Hal tersebut akan membuat pemerintah lebih fleksibel menentukan agar harga listrik tetap terjaga stabil.

Sementara itu naiknya harga batubara menjadi problem serius bagi PLN yang menggantungkan 60%-nya kepada produk tambang tersebut. Setiap kenaikan harga batubara, pasti akan mendongkrak biaya produksi listrik.

Tahun 2017 akibat melonjaknya harga batubara, biaya pokok produksi PLN pun ikut terkerek naik sampai Rp16,18 triliun. Akibatnya, laba PLN juga turun 72%, dari Rp10,98 triliun (Sep 2016) menjadi Rp3,06 triliun (Sep 2017)

Sebenarnya, PLN bersama pemerintah dan pengusaha batubara pernah mendiskusikan masalah tersebut (5/2), di mana penetapan tarif dasar listrik ditentukan oleh tiga poin penting yakni harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP), cost plus margin, dan diskon dari Harga Batu Bara Acuan (HBA).

Sayangnya, belum ada kata sepakat, termasuk soal harga batubara untuk domestic market obligation (DMO).

Sebagai catatan, akibat kenaikan harga batubara di pasar internasional, keuntungan berbagai perusahaan pertambangan batubara di Indonesia meraup keuntungan besar, tapi pemerintah dapat apa? Hanya tambahan royalti senilai Rp1,3 triliun.

Sejatinya batubara adalah milik negara dan perusahaan pertambangan itu sekadar mendapat izin untuk mengeruknya.

Seharusnya negara punya kewenangan dalam menetapkan aloksi dan harga, untuk optimalisasi pendapatan negara, juga mengatur biaya pokok produksi kelistrikan yang tepat.

Batubara bukanlah semata-mata komoditas belaka. Ia adalah sumber energi yang sangat penting untuk menggerakkan perekonomian dengan segala multplier effect-nya.

Berdasarkan statistik Coal Information Review, yang mengutip data dari International Energy Agencytahun 2017, pengggunaan pembangkit listrik yang berasal dari batubara di negara-negara OECD, turun 6,1% menjadi 3.029 TWh (Tera Watt hour), sementara produksi total tenaga listrik bertumbuh 0,4% dibandingkan produksinya di tahun 2015.

Indonesia dan Australia masih menjadi negara eksportir batubara terbesar dunia di tahun 2016. Konsumsi batubara India meningkat 2,1 tahun 2016 dan secara konsisten hal ini berlangsung terus selama 18 tahun, sementara konsumsi di negara Tiongkok (China) mengalami penurunan.

Indonesia kaya akan potensi batubara. Saat ini Indonesia menjadi produsen batubara terbesar keenam dunia, bahkan sekaligus menjadikannya sebagai eksportir terbesar di dunia.

Mengingat kebutuhan energi listrik terus meningkat, maka penggunaan batubara menjadi pilihan yang cukup bijak untuk mengatasinya. (**)

Comments
Social Media Berita Kota
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2018 Berita Kota.

To Top