Begini 5 Cara Unik Pengelolaan Sampah di Luar Negeri

by Tigin Pesa
Cara Unik Pengelolaan Sampah di Luar Negeri

Pengelolaan sampah di luar negeri kini banyak yang mengandalkan bank sampah. Adanya bank sampah ini tak hanya menjadi tempat untuk menampung sampah-sampah yang tidak berguna. Namun, seiring perkembangan teknologi, bank sampah juga dikonsep untuk mengelola sampah melalui penerapan teknologi yang kreatif dan canggih.

Bahkan, tak sedikit negara yang telah memanfaatkan konsep bank sampah ini. Tak hanya untuk mengurangi jumlah sampah di negara mereka, tetapi juga untuk menghasilkan barang atau produk bernilai ekonomis.

Negara-negara tersebut berlomba-lomba untuk menciptakan inovasi baru pada sistem pengolahan sampah secara efisien. Mari simak bagaimana negara-negara itu melakukannya.

Jepang : Mengklasifikasi Sampah Secara Detail

Pengelolaan sampah di luar negeri, khususnya di Jepang dilakukan dengan cara mengklasifikasikan sampah menjadi delapan jenis sesuai komponennya. Satu botol plastik dibagi menjadi tiga jenis sampah, yaitu sampah botol, sampah label kemasan, dan sampah tutup botol. Sampah-sampah itu harus dipilah secara mandiri oleh masyarakat dibuang pada tempatnya masing-masing.

Setelah sampah-sampah itu terkumpul, selanjutnya akan diangkut ke bank sampah di tempat pengelolaan. Sampah yang berasal dari plastik diolah menjadi benang fiber, yang kemudian akan dijadikan sebagai bahan baku pakaian. Untuk sampah yang berasal dari botol kaca akan diolah menjadi botol kaca baru atau pun paving.

Dengan adanya pengklasifikasian dan pengolahan sampah tersebut, Jepang telah melakukan cara efektif untuk mengurangi jumlah sampah di negaranya secara drastis.

Swedia : Sampah Menjadi Energi

Pengelolaan sampah di luar negeri pada beberapa negara tidaklah sama. Di Swedia, sebelum membuang sampah pada tempatnya, masyarakat diajak untuk aktif memilah sampah. Selain itu, pemerintah Swedia juga memberikan uang kepada siapa saja yang menyerahkan kaleng bekas atau botol ke bank sampah. Penghargaan ini disebut dengan pant system.

Sewdia memanfaatkan sampah untuk menghasilkan energi panas dengan cara membakar 50% sampah dengan temperatur tinggi. Tak hanya itu, mereka juga membuat bahan konstruksi jalan dari abu hasil pembakaran sampah. Jumlah sampah di Swedia kini menurun drastis. Bahkan, untuk menghasilkan energi panas, mereka harus mengimpor sampah dari negara lain.

Hongkong : Tempat Penampungan Sampah Dijadikan Taman Bermain

Pada tahun 2004, Hongkong membangun taman bermain di atas lahan yang menjadi tempat penampungan sampah. Lahan tersebut dulunya bernama Sai Tso Wan, yaitu Tempat Penampungan Akhir (TPA) sampah. TPA tersebut bisa menampung hingga 1,6 juta ton sampah setinggi 65 meter.

TPA tersebut kemudian ditutup dan  ditimbun dengan tanah pada tahun 1981. Sekarang ini, TPA Sai Tso Won menjadi tempat bermain yang luas. Sisa residu sampah di lahan itu dimanfaatkan sebagai sumber energi berbahan metana, sel surya, dan turbin angin.

Uganda : Taman Bermain dari Sampah

Pengelolaan sampah di luar negeri, khususnya di Uganda cukup unik. Sampah-sampah di Uganda disulap menjadi wahana dan dekorasi untuk taman bermain. Pendirian taman bermain berbahan dasar sampah itu diprakarsai oleh Ruganzu Bruno.

Taman bermain tersebut tak hanya efektif untuk mengurangi sampah, tetapi juga sebagai sarana edukasi untuk anak-anak agar lebih peduli terhadap lingkungan.

Korea Selatan : 5 Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

Terdapat lima sumber energi listrik di ibukota Korea Selatan yanh berasal dari pemanfaatan sampah secara maksimal. Direct Combustion adalah teknologi yang digunakan untuk mengubah sampah menjadi energi listrik. Energi panas yang sangat besar berasal dari sampah plastik yang dikumpulkan dan dibakar hingga mencapai suhu tertentu.

Nah, itulah lima cara pengelolaan sampah di luar negeri yang sangat unik dan kreatif. Cara tersebut sangat efektif dan efisien untuk mengurangi jumlah sampah di negaranya. Bagaimana dengan Indonesia?

You may also like