Hierarki Pemasaran Konten: Hadirkan Harmoni Dengan Elemen Konten

by Tigin Pesa
Hierarki Pemasaran Konten

Content is King. Istilah bahasa Inggris ini mungkin sering Anda dengar untuk menunjukan betapa besar fungsi konten dalam kegiatan promosi.

Hanya pertanyaannya, sejauh mana Anda sudah serius memaksimalkan setiap konten dalam bisnis Anda?

Kami tak perlu tau. Itu urusan Anda. Hanya Anda yang bisa mengukur jawaban dari pertanyaan di atas.

Dalam artikel ini, Kami hanya akan coba berbagi kepada Anda bagaimana menyusun sebuah konten sehingga aktivitas pemasaran Anda berada pada level optimal.

Hierarki Pemasaran Konten

Kami yakin, sebagian dari Anda adalah orang-orang yang sudah berusaha maksimal untuk membuat konten dalam menyokong bisnis, namun hasil yang dituai belum berbanding dengan usaha yang ditanam.

Dugaan Kami, Anda mungkin melewatkan pemahaman mengenai hierarki pemasaran konten yang paling mendasar dalam kegiatan pemasaran. Yaitu apa yang disebut dengan model pemasaran AIDA.

Sebuah konsep klasik yang dicetuskan salah seorang pengusaha Amerika bernama E.St.Elmo Lewis pada tahun 1989.

Dalam konsep ini, kegiatan pemasaran konten idealnya mesti mengikuti hierarki yang berisi empat tahap utama. Sehingga elemen-elemen dalam setiap tahap mesti menyesuaikan.

Apa saja itu?

1. Attract Attention (Menarik Perhatian)

Jarang sekali audiens menyengaja untuk aktif mencari produk. Sebagai pebisnis, Anda perlu melakukan pemasaran secara aktif di berbagai kanal.

Namun ketahuilah, konten di setiap kanal, katakanlah misalnya Facebook, sangatlah banyak. Anda bersaing dengan konten lain yang mungkin sama-sama memiliki misi agar produknya dikenal.

Oleh karena itu, Anda perlu membuat audiens melirik dan mempelajari apa yang Anda tawarkan lebih dalam. Ini berlaku dalam setiap jenis konten. Baik video, gambar, maupun tulisan.

Jika dalam tulisan, Anda bisa membuat headline atau judul yang menarik. Targetnya, mereka sadar akan eksistensi Anda dan berpikir untuk mengenal bisnis Anda.

2. Interest (Menarik untuk Mau Mempelajari)

Jika Anda sudah berhasil dalam membuat headline yang mengundang rasa penasaran, maka selanjutnya Anda perlu membuat audiens secara sukarela tertarik mempelajari lebih jauh apa yang Anda tawarkan.

Elemen ini memerlukan serangkaian teknik copywriting yang baik. Mulai dari menyusun tagline, logline, quote, statement yang menunjukan misi, maupun cerita yang mengundang audiens mau lebih lama menyimak konten Anda.

Dalam bahasa jurnalistik, elemen yang satu ini sering disebut lead atau kepala berita. Fungsinya kurang lebih sama.

3. Desire (Mengonversi Tertarik menjadi Ingin)

Ketika pemirsa sudah tuntas mempelajari apa yang ditawarkan, mungkin saja mereka tertarik. Namun, tertarik bukanlah tahap akhir dalam pemasaran konten.

Anda butuh upaya untuk membuat mereka menjadi benar-benar ingin membeli atau menikmati jasa yang Anda tawarkan sehingga ngebet dengan penawaran Anda.

Nah, di titik inilah Anda bisa melakukan bujukan. Anda bisa jejali audiens dengan berbagai keuntungan yang mereka dapat ketika mencoba bisnis Anda.

Bisa dengan menyampaikan bonus-bonus, diskon ketika membeli dalam jangka waktu tertentu, dan sebagainya.

4. Action (Menutup Promosi dengan Aksi)

Ketika Anda berhasil menciptakan keinginan dalam benak audiens, Anda baru bisa memungkas dengan arahan praktis tentang bagaimana langkah selanjutnya jika ingin mencoba produk Anda.

Tahap ini jelas paling mudah. Anda tinggal mencantumkan berbagai pilihan elemen seperti link pemesanan, tombol pop-up (jika dalam website), nomor telepon, e-mail, dan berbagai hal lainnya.

Jadikan pertimbangan kemudahan audiens sebagai prioritas. User experience yang baik akan membantu mereka balik lagi suatu saat.

Bagaimana? Mudah atau sulit?

Jika Anda kesulitan, Anda tak perlu khawatir.

Saungwriter adalah jasa penulis konten super lengkap, ada SEO writer, copywriter technical writer, yang berpengalaman dan memahami bagaimana caranya memasarkan konten dengan optimasi elemen yang harmonis untuk membantu bisnis Anda meroket.

 

You may also like